Laboratorium Digital Sejarah

Menelusuri Jejak Masa Lalu
Untuk Masa Depan

Selamat datang di HistoriaEdu. Platform edukasi interaktif untuk mengeksplorasi arsip, artefak, dan kekayaan sejarah lokal pesisir Aceh melalui teknologi digital.

1.2k+
Arsip Digital
450+
Artefak Pesisir
85+
Riset Disetujui
20+
Kontributor Aktif

Data Bank Budaya Pesisir

Katalog lengkap pengetahuan sejarah dan budaya Aceh

Lihat Semua

Kajian Sejarah Terbaru

Artikel dan penelitian terkini dari tim kami

Semua Artikel
Kearifan Lokal

Transformasi Nilai Budaya Masyarakat Pesisir Aceh dalam Praktik Hukum Adat yang Berkelanjutan Menuju Green Economy

Green economy atau ekonomi hijau menekankan pembangunan yang berkelanjutan secara ekologis, inklusif secara sosial, dan berkeadilan secara ekonomi. Dalam konteks masyarakat pesisir Aceh, nilai budaya dan hukum adat memiliki kontribusi penting terhadap pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Namun, transformasi sosial dan tekanan eksternal mengancam keberlanjutan praktik-praktik lokal tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-kualitatif dengan analisis literatur, studi regulasi, dan dokumentasi praktik hukum adat laut masyarakat Aceh. Fokus utama diarahkan pada identifikasi nilai-nilai budaya dan norma hukum adat yang sejalan dengan prinsip-prinsip green economy. Data dianalisis secara deskriptif-kritis untuk menggambarkan peran, tantangan, dan potensi integrasi hukum adat dalam sistem ekonomi hijau. Temuan menunjukkan bahwa hukum adat laut, khususnya melalui peran Panglima Laot, telah mengatur pelestarian sumber daya laut melalui larangan alat tangkap destruktif, pengaturan musim tangkap, dan distribusi hasil laut yang adil. Nilai-nilai budaya seperti kolektivitas, tanggung jawab ekologis, dan kesederhanaan mendukung praktik ekonomi rendah emisi dan berbasis komunitas. Namun demikian, belum adanya pengakuan formal secara menyeluruh dan lemahnya regenerasi kelembagaan menjadi tantangan serius. Nilai budaya dan hukum adat terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap praktik green economy, terutama dalam dimensi ekologis, ekonomi komunitas, dan penguatan kelembagaan lokal. Pengakuan formal, revitalisasi nilai lokal, dan integrasi kelembagaan menjadi kunci memperkuat hukum adat sebagai fondasi pembangunan pesisir yang berkelanjutan.

Saiful Anwar, Muhammad Iqbal, Radhali, M. Iqbal Asnawi, Meta Suriyani.

Koleksi Museum Virtual

Artefak dan benda bersejarah pesisir Aceh

Masuk Museum

Publikasi & Kegiatan

Berita terbaru dari Laboratorium Digital Sejarah

Semua Publikasi
PENGABDIAN MASYARAKAT

Pembuatan Terasi

Terasi adalah salah satu warisan kuliner penting masyarakat pesisir Langsa. Bumbu ini dibuat dari udang rebon yang difermentasi secara alami. Proses pembuatan terasi mencerminkan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya laut, menjaga ketahanan pangan, dan membangun identitas budaya. Langkah-langkah utamanya sederhana namun penuh makna. Pertama, masyarakat memilih bahan segar dari hasil tangkapan nelayan. Udang atau ikan kecil itu dicuci lalu dijemur agar kadar air berkurang. Setelah agak kering, bahan dihaluskan dan dicampur dengan garam sebagai pengawet alami. Adonan kemudian dijemur kembali selama beberapa hari hingga terjadi fermentasi yang menghasilkan aroma khas terasi. Terakhir, terasi dibentuk menjadi balok atau keping untuk siap dipasarkan maupun dikonsumsi. Lebih dari sekadar bumbu dapur, terasi menyimpan nilai indigenous knowledge: pemanfaatan bahan lokal, kearifan dalam fermentasi alami, serta kebersamaan masyarakat pesisir yang masih mempertahankan tradisi turun-temurun ini. Melalui microlearning ini, kita dapat melihat bahwa pembuatan terasi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Langsa menjaga hubungan dengan laut, alam, dan warisan budayanya.

Tim Langsa Multicultural

PENGABDIAN MASYARAKAT

Pembuatan Ikan Asin

Ikan asin adalah salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat pesisir Langsa dalam mengawetkan hasil laut. Dengan memanfaatkan garam dan sinar matahari, ikan segar dapat disimpan lebih lama tanpa kehilangan nilai gizi. Praktik ini sederhana, namun mencerminkan pengetahuan adaptif masyarakat pesisir untuk menjaga ketahanan pangan. Proses pembuatannya dimulai dari pemilihan ikan segar hasil tangkapan nelayan. Ikan dibersihkan, kemudian dilumuri direndam dengan garam selama semalam. Hal yang perlu diingat, ikan asin tidak tiperbolehkan dicuci atau terkena air tawar karena justru menyebabkan pembusukan. Setelah itu, ikan dijemur selama beberapa hari hingga kering dan siap dipasarkan ataupun dikonsumsi. Setiap tahap dilakukan dengan cara tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Di Langsa, khususnya di kawasan Pusong, tradisi ini memiliki dimensi sejarah yang lebih luas. Pembuatan ikan asin di daerah ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dibawa oleh etnis Tionghoa saat mereka bermigrasi ke Telaga Tujoh di masa lalu. Dari proses interaksi tersebut, lahirlah praktik bersama yang hingga kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. Lebih dari sekadar lauk sederhana, ikan asin adalah wujud indigenous knowledge yang menyimpan memori kolektif keberagaman. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat pesisir Langsa, melalui warisan kuliner, merajut identitas bersama yang diperkaya oleh pertemuan budaya.

Tim Langsa Multicultural

KOLABORASI RISET

Ensiklopedia Kebudayaan Aceh

Ensiklopedia Kebudayaan Aceh Jilid I merupakan buku referensi budaya Aceh yang membahas secara lengkap terkait tradisi keagamaan masyarakat Aceh, ritual adat Aceh, pengetahuan tradisional Aceh, sistem nilai masyarakat Aceh, dan budaya Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh Buku ini sangat penting sebagai sumber penelitian sejarah budaya Aceh, referensi pembelajaran terkait sejarah lokal dan dokumentasi kebudayaan Aceh.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh